Selasa, 19 Februari 2013

Hening



hening.....
tak ada desir angin
hanya dingin yang mengelus miang hati
ada setitik kelip bintang sepintas menyembul
dari gelapn mendung yang bermain bersama kelelawar

tak lagi mampu kugambarkan pelangi
yang sore tadi bercengkerama di birunya langit
bersama awan putih yang kujadikan alas tidurku

lantas masih adakah esok
yang janjikan seminya pucuk daun jati yang lama kering?

Sabtu, 16 Februari 2013

senja

 
 
Senja…
Aku suka sekali dengan kata itu. Bukan Cuma kata-nya, realisnya juga aku suka banget. Bagiku saat paling damai ya tentu saja senja. Saat mega jingga menutup tirai harinya dan menyibak tirai malam, rasanya indah banget…
Datangnya senja mengakhiri semua aktifitas, datangnya senja menghentikan hiruk pikuk keduniawian, datangnya senja membuat orang berucap “Alhamdulillah” akan hari lelah yang telah dilaluinya, datangnya senja menyatukan hati yang terpisah oleh tuntutan pekerjaan, yang jelas datangnya senja sangat berarti terutama bagiku…
Segala sesuatu yang berhubungan dengan senja, sangat menarik hatiku untuk berekspresi lewat apapun itu, terutama tulisan. Sangat memberi inspirasi…
Senja, Langit, sore, lembayung, jingga, cakrawala, sunset… dan semua tentang sang senja….. menyenangkan!!!!

tak bosan

aqu tak pernah bosan setiap waktu mengejarmu di ujung cakrawala sinar sang surya tenggelam

Kamis, 14 Februari 2013

rembulan mengapung diberanda matamu

Adakah Kilau Rembulan

Yang Mengapung indah di beranda matamu
adalah sebuah ruang renung untuk memahami lebih dalam
setiap desir luka, serpih tawa, isak tangis, jerit rindu dan keping
kecewa
yang memantul pelan dari dinding hatimu?

Kenangan yang telah dipahat rapi di sepanjang jejak waktu
tak ubahnya seperti gugusan awan bersama selarik bianglala
yang berbaris sepanjang garis cahaya mentari
serta kepak camar riang membelah langit

Harapku, semoga, langkah pasti yang kau tapak kedepan
memberi makna di taman jiwa
bersama selaksa kembang dan kepak kupu‐dan kilau rembulan di beranda matamu
yang membasuh perih, melerai gulita
senantiasa hadir dan mengalir
tanpa henti
di sepanjang selasar hidupmukupu bersayap cemerlang
pada setiap dentang usia
seraya melukis potongan kisahnya di kanvas batin



purnama terisak dipucuk malam

Purnama yang mengapung di rangka langit malam ini
seperti bercerita
tentang sebuah kehilangan yang pedih
dan jejak‐jejak luka yang tertinggal
pada sepanjang bias cahaya lembutnya

Purnama yang menggigil di kelam malam
adalah pilu kegetiran yang kau sematkan pelan‐pelan
pada rerumputan pekarangan
dimana embun dini hari
menyesapnya dalam‐dalam, lalu membawanya pergi
seiring terik mentari esok pagi

Purnama yang menangis terisak di pucuk malam ini
mengantar segala nyanyian duka dan airmatamu
mengalir di sepanjang sungai kenangan
menuju muara yang jauh
dimana, katamu dengan lidah kelu,
“Aku tak tahu, apakah disana segalanya kelak
menjadi hangat mendamaikan
atau malah menjadi hangus tak bersisa”


Selasa, 12 Februari 2013

pada hening




 












Aku ingin rebah di dadamu
Menghirup segar nafas khusyu’mu..
mencuri debar ketenanganmu
Yang rapi kau simpan, di dalam selimut diam
ada senyum samar, mekar
di kedut bibirmu
ketika kelopak rembulan ranum berpijar
ketika putik-putik bintang menyemut berpendar
jatuh menghujani tubuhmu
sehingga aromamu yang sunyi
tercium lebih wangi..

Jiwa s'gala jiwa


Dalam setiap langkah aku tertegun
Menyibak makna tanpa warna
Gemericik gelang hempaskan kesunyian
Disuatu resah pantulkan jiwa

Bersemayam aku dalam pandangmu
Bergulir rindunya perasaan cinta
Berarak duka matikan rasa
Jiwa meronta bangkitkan penyesalan

Oh jiwa segala jiwa
Penyejukku kau hempaskan ke semak-samak
Beretak kencang jiwa merana
Setengah hati bersatu dan berbenturan

Oh jiwa segala jiwa
Lemahku melukai hatimu
Menolak cinta hati yang lain
Menyapu luka tampakkan batin

Oh jiwa segala jiwa
Roh ku mendekat kearah fatamorgana
Berarak rasa hempaskan kerinduan
Dalam indahnya cinta hanyalah fana
hingga Melukiskan sengsara yang tiada batas

Oh jiwa segala jiwa
Apakah rasa secangir cawan
Hingga madu kurasa racun yang kuteguk
Bercermin bayangan orang-orang tertawa
Dalam jiwaku aku berkata
Cinta tak selalu kau teguk dengan kebahagiaan..

 

kemesraan

K...ata-kata indah'ya mampu m'buatqu t'hanyut
E...ntah berapa byk syukurqu yg luput
M...enjalani hari2 tanpa-Nya s'olah kusut
E...nergi cinta-Nya bgitu besar hingga selalu m'buatqu larut
S...iapa yg tak ingin m'rasakan belaian-Nya yg lembut
R...idho-Nya kan s'lalu qita sambut
A...ndai s'mua perintah-Nya qita turut
A...langkah sempurna'ya bahagia saat d'jemput
N...yawa yg t'lah siap b'temu sang k'kasih tnp rasa takut..

Kilas

aqu t'lempar dunia asing
ilang s'luruh kendali jiwa
s'saat t'cekik bingung tak terlihat senoktahpun cahaya
m'buka lagi memori lama t'kunci rapat d'sudut hati
s'kedar mengisi pelukan sepi,dlm dunia mulai t'kenali
t'lalu singkat wktu b'jln,lalui kilas balik sejarah
t'lalu byk cerita t'cipta..takkan ckp wktu t'sisa
hari d'mana elegi t'jadi aqu & qamu torehkan luka
hari saat elegi t'penggal
t'tebas takdir tak t'cegah kilas elegi
nanti & esok hari aqu m'nantimu kembali...

terdiam aku disni

terdiam aku...
menikmati alunan angin-angin yang menyapa halus
ingin menyaksikan matahari terbenam disore hari
bisu tanpa suara...
melambaikan tanganku pada burung-burung mengepak sayapnya
terbang pulang ketika mulai senja

mengenang kisah t'lah sampai yang pada akhirnya..
dan harusnya aku diam saja memandang ombak begitu tenang..
bergumam dalam hati
tak tahu harus berkata apa ? tak satupun kalimat terucap dibibir yang kelu

ku menghela nafas.. panjang
mencoba tuk melepas penat dalam keterasingan dunia
sesak nan tak berkesudahan
mencoba membuang jauh..kelu yang kian menari tanpa henti
mencoba tetap tersenyum dalam simpul-simpul pipiku..

ku menatap guratan mentari
yang kini tenggelam meninggalkan sinarnya..
tak mengucapkan salam terakhir
begitu cepat tanpa bekas juga warna warni kesaksian
yang tergantikan oleh gelap petang membayang rindu menghanyutkan




Senin, 11 Februari 2013

letih..

Letih... Ku berdiri di tengah terik mentari, semenjak semangatku beranjak pergi entah meninggalkan aku atau ku buang dipersimpangan jalan kehidupan.

Letih... kenapa raga ini belum juga mati, sehingga jiwa ini terus meminta tuk beranjak pergi, menghakiri cerita hidup ini.

Aku pernah mencoba berlari meninggalkan kehidupan ini dengan menantang maut tapi kenapa sampai sekarang jiwa ini tak pernah meninggalkan raga ni.

Aku masih disini... Masih ada namun sebait kata pun tak pernah sempat ku buat, setiap hari ku hanya bisa bergelut dalam hati yang semakin terkikis.

Besok mungkin tak dapat ku ulang waktu lagi, mengulang waktu tuk curahkan hati dalam bentuk puisi dalam notes ini.

Nyataku tak pernah sempat tuk berbenah dalam kecamuk resah, gejolak perasaan selalu gelisah dalam ketidak pastian kenyataan yg aku dapat dari secarik kertas dari diagknosa.

Hingga sekali lagi di pagi ini kerinduan akan puisi menjadi curahan hati untuk mengisi hidup ini yang mungkin sebentar lagi akan terakhiri.

Entah sanggupkah aku tuk menghadap ILAHI atau aku enggan tuk beranjak pergi tuk mengakhiri cerita hidup bak panggung sandiwara ini.



mentari hidup diatas cakrawala

Kala senja itu tiba
ku termenung sendirian
Terasa diriku ini jauh dari rahmat Tuhan
Dosa yang aku lakukan
Menerjah ruang fikiran
Masihkah ada untukku keampunan

Gelap rasa dunia ini
Tanpa cahaya Ilahi
Baru kini kusedari
Jalan yang aku lalui
Memusnah pedoman hidup
Melempar hatiku ini ke lembah kehinaan

Dalam kegelapan itu
Terbit cahaya dari-Mu
Memandu hamba-Mu menuju iman
Menginsafi diri dengan ketaqwaan dan kesabaran

Kau terangi jalanku menuju syurga-Mu
Dan Kau tunjuki dengan hidayah-Mu
Hanyalah pada-Mu kuhadapkan diri
Mohon keampunan

Wahai Yang Maha Pengasih
Bantulah hamba-Mu ini
Yang kian terumbang-ambing
Di dalam arus duniawi
ku berdoa kepada-Mu
Memohon limpah rahmat-Mu
Mentari hidupku kan bersinar kembali..


separuh hati

Teman…
Bolehkah aku pinjam telingamu untuk mendengarkan ceritaku
Bolehkah aku pinjam bahumu untuk kubersandar sejenak disaat kulelah
Bolehkan ku pakai jemarimu tuk menahan air mataku agar tak jatuh berderai
Bolehkan ku pakai tanganmu untuk menopang tubuhku agar aku tak terjatuh
Teman…
Bolehkah aku berharap ada cahaya dikala badai menghadang
Bolehkan aku bermimpi tentang sesuatu yang indah
Bolehkah aku berlari dari takdir yang terasa menyesakkan ini
Bolehkah bila suatu saat aku menyerah pada keadaan
Teman….
Jika aku boleh meminta kan kupinta separuh hatimu untukku
Jika aku bisa meraih bintang diangkasa kan kubawa ia kehadapanmu
Jika aku bisa mengenal dan berbagi kasih denganmu kan kusampaikan pada dunia bahwa aku bahagia
Teman…
Bolehkah aku menjadi temanmu…




kau hatiku

ketika ku lelah untuk berjalan
aku pun berhenti sejenak
ku duduk diantara belahan batu tuk menghela nafas
tiba tiba aku melihatmu
diam membisu tak sepatah
katapun kau ucap dari bibirmu kau hanya menatap langit yang sendu
hanya angan serta lamunan
yamg dapat aku lihat dari sudut pandanganmu
ku tahu bila hatimu tergores
akan masalalu,ku mengerti
bila kepadihan slalu menyelimuti harimu dan aku
tlah memahami tentang bayangan yang kerap kali
membuat batu sandungan
langkah kakimu
saat ku rasa kau tlah reda
ku pegang tangan jemarimu
yang terasa dingin, ku coba
katakan pada keheningan asamu
say……
kau dan aku sama merasakan sakit meratapi kisah lalu yang sangat panjang
cobalah kau tatap semak itu ilhamilah bahwa hari esok kan menjemputmu
berikan keabadian dalam hidupmu, berikan kesejukan dalam hatimu
buanglah jauh asa takut kehilangan itu dan ingatlah bahwa kau tak sendiri jalani
harimu masih ada aku yang slalu menemani dalam sepimu